About

Meraih Ridha Allah Dalam Bersahabat


"Dalam bergaul janganlah harta benda yang ingin didapatkan, tetapi hendaklah bertujuan mulia, yaitu mencari Ridha Allah S.W.T, dan untuk itu hendaklah pergaulan itu sesuai dengan syari'ah yang diajarkan Rasulullah S.A.W"

Alhamdulillah, Allah S.W.T Yang Maha Pengasih telah menghiasi agama yang agung ini dengan kasih sayang antara sesama mukmin. Dengan kasih sayang tersebut, mereka bersatu. Dengan kasih sayang itu, mereka berlomba untuk meraih Ridha-Nya dengan meneladani Kekasih-Nya Muhammad S.A.W.
Nabi pembimbing ummat, pembawa rahmat, pemberi syafa'at di hari kiamat, yang telah diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia, dan dipuji dengan firman-Nya:



“Dan sesungguhnya engkau (Nabi Muhammad S.A.W) benar-benar berbudi pekerti yang agung.". (QS Al-Qalam: 4).
Ketahuilah wahai saudaraku, bahwa dalam pergaulan sehari-hari, tidaklah mudah bagi seseorang untuk bergaul dengan siapa saja. Oleh karena itu sering kali kita dapati seseorang yang salah dalam bergaul sehingga mengakibatkan kerugian yang amat sangat fatal bagi dirinya sendiri. Tidak juga mudah bagi seseorang untuk mendapatkan kerelaan orang lain, hingga dapat hidup bersama mereka dengan penuh kasih sayang. Tidaklah mudah untuk mendapatkan keridha'an Allah S.W.T dalam bergaul dengan sesama. Oleh sebab itu, bagaimanakah supaya pergaulan kita dengan orang lain tidak salah, bagaimanakah agar mendapatkan kerelaan orang lain dalam bergaul?, dan bagaimanakah dalam bergaul itu sendiri dapat mencapai Ridha Allah S.W.T?. Sebagaimana kita tahu, Allah S.W.T telah menciptakan kasih sayang dan diantara sesama muslim, maka dari itu Rasulullah S.A.W bersabda:

(مثل المؤمنين في توادهم وتراحمهم كمثل الجسد، إذا اشتكى منه عضو تداعى سائره بالحمى والسهر).رواه مسلم

"Perumpama'an orang-orang mukmin dalam saling mengasihi dan menyayangi  adalah bagaikan satu tubuh, jika salah satunya merasa sakit maka seluruh tubuh (merasakan sakit) menjadi demam dan tidak bisa tidur''. (HR. Muslim).
.
 (المؤمن للمؤمن كالبنيان المرصوص يشد بعضه بعضاً).متفق عليه

"Seorang mukmin dengan mukmin yang lain bagaikan bangunan yang kokoh, saling menguatkan yang satu dengan  yang lainnya.".(HR Bukhari Muslim).

Kedua Hadist diatas telah menggambarkan kepada kita begitu penting dan indahnya pergaulan sesama muslim, karena dalam pergaulan tersebut dihiasi dengan kasih sayang, keakraban antara satu dengan yang lainnya. Sesungguhnya rasa kasih sayang diantara sesama muslim ini tumbuh dari akhlak yang baik, dengan akhlak yang baik rasa kasih sayang akan tumbuh secara tersendiri di hati setiap muslim. Tanpa akhlak yang baik orang-orang muslim akan terpecah belah dan rasa kasih sayang diantara mereka akan sirna, sehingga pergaulanpun tidak berjalan sesuai dengan syari'at islam dan tidak mendapatkan Ridha Allah S.W.T.

Dalam syari'at islam, pergaulan mempunyai cara atau trik-trik tertentu. Tentunya trik-trik tersebut diambil dari Rasulullah S.A.W yang telah menjelaskan kepada kita secara gamblang syari'at islam yang datang dari Allah S.W.T. Dalam syari'at ini telah dijelaskan secara panjang lebar bagaimana cara bergaul dengan orang lain dalam jenis yang berbeda, baik tua atau muda, kecil atau sebaya. Baik bodoh atau pintar dan lain sebagainya. Para Ulama shalehlah yang telah mempraktekan trik-trik tersebut, sehingga jika kita menginginkan trik-trik tersebut, kita tinggal mencontoh mereka.

Trik-trik berteman atau bergaul tersebut dibagi menjadi dua bagian. Bagian pertama adalah Bagaimana Kita Memilih Teman bergaul, sedangkan bagian kedua adalah Adab Bergaul. Dengan kedua bagian ini Insya Allah dalam pergaulan kita dengan orang lain, akan mendapatkan kerelaan orang serta mendapatkan Ridha Allah S.W.T.

Bagaimana Kita Memilih Teman

Sahabat yang mulia akan membawa temannya menuju keberhasilan di dunia serta keselamatan di akherat, sedangkan sahabat yang berakhlak jelek serta pembawa fitnah, dia adalah pembawa celaka bagi temannya.

Betapa banyak orang menggigit jarinya sebagai penyesalan atas pergaulan mereka yang salah, karena mereka telah meletakkan persahabatan itu di pinggir api yang berkobar, sehingga dia pun terbakar oleh api tersebut. Allah S.W.T  berfirman:

وَيَوْمَ يَعَضُّ الظَّالِمُ عَلَى يَدَيْهِ يَقُولُ يَا لَيْتَنِي اتَّخَذْتُ مَعَ الرَّسُولِ سَبِيلًا (27) يَا وَيْلَتَا لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيلًا (28) لَقَدْ أَضَلَّنِي عَنِ الذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ جَاءَنِي وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِلْإِنْسَانِ خَذُولًا
(29)[الفرقان:27-29]

"Dan Ingatlah pada hari (ketika) orang-orang zalim menggigit kedua jarinya (menyesali perbuatannya) seraya berkata: "Wahai, sekiranya aku dulu mengambil jalan bersama Rasul (27), Wahai, celaka aku sekiranya dulu aku tidak mengambil si fulan itu teman akrab(ku) (28). Sungguh dia telah menyesatkan aku dari peringatan Al-Qur'an ketika Al-Qur'an itu telah datang padaku, dan syetan memang penghianat manusia (29)." (QS Al Furqaan: 27-29).

Tabiat seseorang diambil dari tabiat orang lain, betapa cepatnya orang berjalan menuju arah yang dilewati temannya. Telah terbukti bahwa pengaruh teman yang berakhlak buruk lebih berpengaruh daripada teman yang berakhlak baik. Sering kita lihat menularnya penyakit merokok dari orang pecandu rokok kepada orang yang tidak pernah merokok, dan jarang sekali kita lihat orang pecandu rokok tertular oleh orang yang tidak merokok, kemudian dia sadar dan berhenti merokok.

Begitu besarnya pengaruh-pengaruh ini. untuk menjaga akhlak yang baik serta adat yang mulia, Rasulullah S.A.W memerintahkan kepada kita untuk melihat dengan siapa kita bergaul supaya dalam pergaulan ini dapat memperbaiki diri kita, dapat bermanfaat dan mengambil manfaat dari orang lain, serta dalam pergaulan kita ini akan mendapat Ridha Allah S.W.T. Rasulullah S.A.W bersabda:

(مثل الجليس الصالح كمثل صاحب المسك إن لم يصبك منه شيء أصابك من ريحه ومثل جليس السوء كمثل صاحب الكير إن لم يصبك من سواده أصابك من دخانه)رواه أبو داود.

"Perumpama'an sahabat yang shaleh adalah seperti penjual minyak misik, jika engkau tidak mendapatkan sebagian minyak itu, engkau akan mendapatkan wanginya, sedangkan perumpama'an sahabat yang buruk adalah seperti peniup kipas tukang besi, jika engkau tidak terkena abunya, engkau akan terkena asapnya". (HR Abu Dawud).

Jika ini adalah keadaan teman yang kadang-kadang berkumpul dengan seseorang pada pertemuan di jalan, dalam waktu yang sangat singkat dari siang atau malam hari maka bagaimana kita dengan teman kita yang berkumpul bersama kita dalam kesenangan atau kesusahan? Maka dari itu dalam bergaul dengan orang lain, hendaklah teman itu memenuhi kriteria sebagai berikut:

1. Beriman

Yaitu bergaul dengan orang yang dipercaya agama dan amanatnya baik secara lahir dan batin;

(لا تَجِدُ قَوماً يُؤمِنونَ بِاللَهِ وَاليَومِ الأَخِرِ يُوادّونَ مَن حادَّ اللَهَ وَرَسولَهُ)[المجادلة:22].

"Engkau (Muhammad) tidak akan mendapatkan suatu kaum yang beriman kepada Allah SWT dan hari akhirat saling berkasih sayang dengan orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya". (QS Mujadalah: 22)

Dengan bergaul dengan orang yang beriman, kita akan dapat memperkuat iman kita. Karena dalam persahabatan kita diperintahkan oleh Allah untuk saling menasehati. Dengan saling menasehati kita akan tahu kekurangan satu sama lain sehingga merekapun memperbaiki kekurangan tersebut. Dengan begitu bertambah kuatlah iman kita. Rasululla SAW juga bersabda:

لا تصاحب إلا مؤمنا ولا يأكل طعامك إلا تقيّ. راه الترمذي وأبوداود

"Janganlah bergaul kecuali dengan orang mukmin, dan jangan memberi makan kecuali orang yang bertaqwa". (HR.Tirmidzi dan Abu Dawud).

2. Shaleh

Dalam pergaulan kita harus mencari orang yang shaleh yang berbudi pekerti baik. Karena orang yang berbudi pekerti baik dapat menjadikan kita baik pula. Sebagaimana yang telah disabdakan oleh Rasulullah S.A.W, waktu beliau ditanya tentang sebaik-baiknya pemberian seseorang kepada orang lain? Rasulullah S.A.W menjawab: "Akhlak yang baik". Allah S.W.T jika menghendaki kebaikan terhadap seorang hamba, maka akan memberikan petunjuk kepadanya untuk bergaul dengan orang-orang sholeh yang berpegang teguh pada sunnah Nabi dan menjaganya dari berteman dengan orang-orang yang selalu mengikuti hawa nafsunya. Rasul S.A.W bersabda:

المرء على دين خليله، فلينظر أحدكم من يخلله. رواه أحمد

"Seorang itu akan mengikuti agama temannya, maka hendaklah kamu melihat dengan siapa dia bersahabat ". (HR Ahmad).

Dikatakan juga: "Janganlah kamu bertanya tentang kepribadian seseorang kepada dia sendiri, akan tetapi bertanyalah kepada temannya, karena kepribadian  orang itu dapat dilihat dari temannya".
Hendaklah kita tidak bergaul dengan orang-orang yang tujuannya dunia belaka. Karena mereka akan membawa kita menuju tujuan yang fana tersebut. Sehingga menjauhkan kita dari petunjuk yang benar menuju kesesatan dunia, dan menghalangi kita untuk dapat memahami nilai akhirat serta keridhaan Allah S.W.T. Dzunnun berkata kepada orang yang minta nasehat kepadanya: "Hendaklah kamu bergaul dengan orang yang menurutmu baik secara lahir, yang dengan melihatnya dapat membantumu untuk melakukan kebaikan, serta selalu mengingatkanmu untuk mengingat Tuhanmu".

Rasulullah S.A.W telah bersabda: "Diantara kebahagiaan yang ada pada seseorang adalah  mempunyai saudara yang shaleh".

3. Berilmu dan Bersifat Dewasa (Berakal)
Diantaranya adalah bergaul dengan orang-orang yang pandai, berilmu, bersikap dewasa dalam menghadapi sesuatu dan pandai menggunakan akalnya, atau bergaul dengan orang yang faqih (pintar dalam ilmu fiqih dan mempraktekannya) serta sabar dan murah hati. Dzunnun Al-Mishri mengatakan:
"Tiada anugrah yang lebih baik yang diberikan oleh Allah kepada seorang hamba sebaik akal, tiada pula untaian kalung yang lebih bagus yang dikalungkan oleh Allah S.W.T kepada seorang hamba seindah ilmu, tiada pula perhiasan yang lebih indah yang Allah hiaskan kepada seorang hamba seindah kemurahan hati. Dan yang paling sempurna diantara semuanya adalah taqwa".
Selain itu, kita juga perlu memperhatikan bahwa pergaulan dengan orang-orang yang lebih tua hendaklah dilakukan dengan menghormati dan memberikan bantuan, seperti dengan membantu meringankan beban yang mereka pikul atau membantu pekerjaan mereka. Sedangkan bagi sesama teman hendaklah pergaulan dilakukan dengan saling menasehati, berkorban satu sama lain, serta saling membantu dalam kebaikan dan tidak dalam perbuatan dosa. Sedangkan dengan murid dan orang-orang yang lebih muda hendaklah pergaulan dilakukan dengan memberi nasehat dan menunjukkan pada kebaikan, mengajarkan tata krama serta mengarahkan mereka menuju pengetahuan, adab sunnah nabawiyah, dan hukum-hukum rohaniyah. serta mengajarkan mereka untuk berhias dengan akhlak yang baik.

Adab Bergaul

Dalam bergaul ada sikap-sikap tertentu yang harus kita laksanakan sehingga dalam bergaul kita akan mendapatkan ridha Allah S.W.T. Diantaranya adalah sebagai berikut:

1. Ikhlas Karena Allah Semata

Sabda Rasululah S.A.W:
 إنما الأعمال بالنيات وإنما لكل امرء ما نوى.رواه البخاري

"Sesungguhnya amalan seseorang itu tergantung niatnya". (HR.Bukhari).

Dalam bergaul kita harus berniat dihati kita bahwa pergaulannya ini atau persahabatannya ini adalah karena Allah S.W.T semata, tidak karena hal-hal yang berhubungan dengan dunia, misalnya saja bergaul dengan seseorang karena dia anak orang kaya dan mengharapkan darinya sebuah imbalan berupa harta atau yang lainnya. Hal seperti ini bukanlah pergaulan yang ikhlas karena Allah S.W.T.

2. Mudah Memafkan

Hendaklah dalam bergaul dengan orang kita selalu mema'afkan kelalaian saudara kita, serta tidak terlalu memperhitungkan kesalahan mereka. Fudhail bin 'Iyadh mengatakan: "Kemurahan hati adalah memaafkan kelalaian saudaranya". Sebagian ahli hikmah mengatakan: "Orang mukmin adalah yang beriman secara tabiatnya". Ibnu Al A'rabi juga mengatakan: "Lupakanlah kesalahan saudaramu, niscaya kasih sayang antara kalian akan abadi".

3. Tidak Segan Untuk Berterima Kasih

Allah memerintahkan kita untuk bersyukur secara umum atas semua nikmat yang diberikan kepada kita, dalam sebuah hadist juga dikatakan: "Barangsiapa yang tidak bersyukur kepada orang lain berarti dia tidak bersyukur kepada Allah S.W.T". Diantara cara bersyukur kepada orang lain yaitu mengucapkan terima kasih jikalau seorang teman memberikan bantuan sekecil apapun. Sebagaimana Sabda Rasul S.A.W: "Niat seorang mukmin lebih berpengaruh dari pada amalannya". Sayyidina Ali K.w mengatakan: "Barang siapa yang tidak mengajak saudaranya untuk memperbaiki niatnya maka tidak layak untuk mengucapkan terima kasih kepadanya atas kebaikan yang dia berikan".

4. Menjauhi Sifat Dengki

Hendaknya seorang mukmin tidak mempunyai rasa dengki terhadap temannya atas nikmat yang diberikan Allah kepada mereka, akan tetapi malah selalu merasa senang dan gembira atas nikmat Allah yang ada pada mereka tersebut, kemudian memuji Allah S.W.T atas nikmat yang diberikan kepada saudara atau temannya sebagaimana dia memuji Allah S.W.T ketika dia sendiri yang diberi nikmat oleh Allah S.W.T. Karena Allah mencela orang-orang yang mempunyai sifat iri dan dengki sebagaimana dalam firman-Nya:

أَم يَحسُدُونَ الناسَ عَلى ما أتَاهُمُ اللَهُ مِن فَضلِهِ.[النساء :54]

"Ataukah mereka dengki kepada manusia, karena karunia Allah yang telah diberikan kepadanya?" (QS Annisa': 54).

5. Selalu Bersifat Malu

Malu adalah salah satu sifat seseorang yang kadangkala merupakan sifat yang terpuji, dan ada kalanya tidak baik. Diantara sifat malu yang dianjurkan adalah malu dalam pergaulan. karena Rasulullah S.A.W telah bersabda:

الإيمان بضعة وسبعون - أو وستون - باباً، أفضلها شهادة أن لا إله إلا الله، وأدناها إماطة الأذى عن الطريق، والحياء شعبةٌ من الإيمان. رواه مسلم

"Iman itu memiliki pintu lebih dari tujuh puluh atau enam puluh, yang paling utama adalah mengucapkan kalimat syahadat bahwa tiada tuhan selain Allah, dan yang paling rendah adalah menyingkirkan duri di jalan, dan malu adalah sebagian dari iman". (HR Muslim).

Rasulullah S.A.W juga telah bersabda kepada seorang laki-laki yang berkata: "Berwasiatlah untukku?" kemudian Rasul menjawab: "Malulah kepada Allah S.W.T sebagaimana kamu malu kepada seorang laki-laki terhormat di daerahmu". Akan tetapi dalam hal-hal tertentu sifat malu tidak dianjurkan bagi kita, seperti malu meminta maaf, malu menolong orang lain, malu menasehati orang lain atau malu untuk berda'wah menuju jalan Allah S.W.T. Hal-hal tersebut tidak dianjurkan dalam syari'at islam.

6. Menampakkan Kegembiraan dan Wajah yang Ceria

Dengan menampakan kesenangan, kegembira'an serta wajah yang berseri-seri kepada orang lain, orang lain juga akan merasa senang melihatnya. Dengan diniati sadaqah serta menggembirakan orang lain, tentunya kita akan mendapat pahala disamping dapat mengambil hati orang lain. Rasulullah S.A.W bersabda: "Senyummu kepada saudaramu adalah sedekah". Seorang teman hendaknya selalu menampakkan wajah yang berseri-seri jika bertemu dengan temannya. Tidak lupa juga berbicara dengan mereka dengan perkataan yang halus, serta mempunyai hati yang lapang.

7. Menghindari Prasangka Buruk

Prasangka buruk merupakan kunci perpecahan diantara dua orang. Dengan menghindari prasangka buruk terhadap teman kita pergaulan akan tetap utuh. Hendaklah kita menafsirkan perkata'an teman kita dengan penafsiran yang paling baik, jika kita menemukan perkata'an atau sikap teman kita yang tidak sesuai dengan hati kita. Kecuali jika kita yakin bahwa teman kita melakukan hal kejelekan, maka hendaklah kita menasehati mereka dengan cara yang baik. Said bin musayyib mengatakan; "Sebagian dari sahabat-sahabatku berwasiat kepadaku agar menafsirkan perilaku saudara-saudaraku dengan penafsiran yang paling baik selama aku tidak yakin bahwa dia berbuat kejelekan".

8. Menghargai Pendapat Orang Lain

Diantara trik bergaul yaitu mengurangi perselisihan, dan selalu menghargai pendapat serta perkata'an mereka dalam hal apapun, selama tidak bertentangan dengan Syari'at Islam. Abu Utsman mengatakan: "Menerima pendapat teman lebih baik dari pada memperselisihkannya".

9. Bersikap Tawadhu

Agar persahabatan tetap terjalin hendaklah kita dalam bergaul saling bersikap tawadhu' dan rendah hati antara satu dengan yang lainnya. Rasulullah S.A.W bersabda: "Sesungguhnya Allah S.W.T telah memberikan wahyu kepadaku untuk bersikap Tawadhu' agar tiada seseorang yang sombong terhadap yang lainnya". Al-Mubarrid juga mengatakan: "Diantara nikmat yang pemiliknya tidak akan dihasud yaitu tawadhu', sedangkan bala' (celaka) yang pemiliknya tidak akan dikasihi adalah sifat  ujub".

Diantara hal yang menjadikan pergaulan indah adalah sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Al-Hasan Al Warraq setelah dia bertanya kepada Abu Utsman tentang persahabatan kemudian menjawab: "Pergaulan jika dengan Allah berarti dengan Adab, dengan Rasulullah berarti dengan senantiasa mencari ilmu dan melaksanakan sunah-sunahnya, dengan Auliya' berarti dengan menghormati serta berhidmat kepada mereka, dengan saudara sesama berarti dengan memberikan kabar gembira dan menunjukan keriangan bersama mereka, serta menghindari perselisihan dengan mereka selama tidak keluar dari syari'at atau mencela kehormatan seseorang. Allah S.W.T telah Berfirman:

خُدِ العَفوَ وَأَمرُ بِالعُرفِ. [الأعراف:199]

"Jadilah orang pema'af dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf". (Qs Al A'raf : 199).

Sedangkan bergaul dengan orang bodoh maka dengan cara melihat mereka dengan kasih sayang, serta dengan melihat nikmat Allah S.W.T yang ada padamu yang tidak menjadikanmu seperti mereka, serta berdo'alah semoga Allah membebaskanmu dari kebodohan.

10. Menyimpan Rahasia


Jika kita diberitahu suatu rahasia oleh teman kita, sesungguhnya kita telah diembani sebuah amanat olehnya. Maka hendaklah kita memegang amanat tersebut. Rasulullah S.A.W bersabda: "Agar terpenuhi keinginan-keinginanmu, mintalah pertolongan dengan menyimpan keinginan atau kebutuhan tersebut, karena dalam setiap nikmat pasti ada yang menghasutnya".
Sebagian orang-orang bijak mengatakan: "Hatinya orang-orang merdeka adalah kuburan rahasia-rahasia".

Dikatakan, bahwa ada seorang yang membocorkan rahasia orang lain kepada temannya, ketika selesai bercerita dia bertanya: "Apakah kamu sudah mengerti dan ingat apa yang aku katakan?", kemudian temannya itu menjawab: "Tidak, aku tidak paham bahkan aku telah lupa".
Sebagian Ulama mengatakan: "Dermawan bukanlah orang yang ketika temannya dalam keadaan lalai, Kemudian menyebarkan rahasia-rahasia yang telah dia ketahui. Sesungguhnya dermawan adalah orang yang persahabatannya tetap utuh, serta menjaga rahasianya baik dalam keadaan damai atau berselisih".

Dalam bergaul janganlah harta benda yang ingin didapatkan, akan tetapi bergaul hendaklah bertujuan mulia, yaitu mencari Ridha Allah S.W.T. Ridha Allah tidak didapatkan begitu saja. akan tetapi hendaklah pergaulan itu sesuai dengan syari'ah yang diajarkan serta dicontohkan Rasulullah S.A.W disertai niat yang tulus. Dengan demikian Insya Allah pergaulan akan menjadi indah dan berharga, akan membawa keberutungan baik di dunia ataupun di akhirat. Keuntungan di dunia dengan disenangi orang banyak, sedangkan keuntungan di akhirat dengan mendapatkan apa yang telah dijanjikan Allah S.W.T dalam sabda Rasulullah S.A.W:

"Ada tujuh golongan yang akan mendapat naungan Allah, di hari tiada naungan selain naungan Allah S.W.T (yaitu pada hari kiamat)", kemudian pada lanjutan hadist tersebut, Rasulullah S.A.W menyebutkan diantaranya: "Dua sahabat yang saling mencintai karena Allah S.W.T.".

Semoga kita tergolong orang yang mendapatkan naungan tersebut. Aamiin ya Rabbal A'lamiin.

~ alKisah ~

Al-Habib Munzir bin Fuad Al-Musawwa, Sang Raja Qalbu

Sanad guru jauh lebih kuat… Hingga kini kita Ahlussunnah wal Jamaah lebih berpegang kepada silsilah guru (yaitu ia mempunyai riwayat guru-guru yang bersambung hingga Rasul saw dan kau betul-betul mengetahui bahwa ia benar-benar memanut gurunya)… kita berpedoman kepada guru-guru yang bersambung sanadnya kepada Nabi saw ataupun kita berpegang pada buku yang penulisnya mempunyai sanad guru hingga Nabi saw… Ia (sanad guru) adalah bagai rantai emas terkuat yang tak bisa diputus dunia dan akhirat, jika bergerak satu mata rantai maka bergerak seluruh mata rantai hingga ujungnya, yaitu Rasulullah saw.

HABIB Munzir bin Fuad Al-Musawwa lahir di Cipanas, Cianjur, Jawa Barat, pada hari Jum’at, 23 Februari 1973, bertepatan dengan tanggal 19 Muharram 1393H. Usai menyelesaikan sekolah lanjutan tingkat atas, ia mulai mendalami ilmu ilmu syari’ah Islam, diantaranya di Pesantren Al-Kifahi Ats-Tsaqafi, Bukit Duri, Jakarta Selatan, mengambil kursus bahasa Arab di LPBA As-Salafi, Kebon Nanas, Jakarta Timur, kemudian mondok lagi di Pesantren Al-Khairat, Bekasi Timur.
Saat di pesantren Al-Khairat itulah pertama kalinya ia bertemu Habib Umar bin Hafidz, guru utamanya dikemudian hari. Kepada sang guru, ia menekuni pelajaran selama empat tahun, yaitu di Ma’had Darul Mushthafa, Tarim Hadhramaut, Yaman Selatan.
Mau Jadi Apa?
Semasa kecil, ia seorang anak yang sangat dimanja oleh ayahnya. Ia pun sampai merasa bahwa sang ayah lebih memanjakannya lebih dari anaknya yang lain. Namun, beranjak remaja, justru sang anak kesayangan ini yang putus sekolah, sementara kakak kakaknya dapat melanjutkan pendidikannya hingga sampai wisuda. Orangtuanya bangga pada mereka, tapi, sebagaimana yang sempat dituturkannya sendiri, mereka kecewa kepadanya. “Karena saya malas sekolah…,” kisahnya suatu ketika.
Namun demikian, ia rajin menghadiri majelis majelis ilmu. Disamping itu, ia juga menghabiskan waktu di hari hari mudanya dengan bersholawat seribu kali siang dan malam, berdzikir beberapa beribu kali, menjalankan puasa Nabi Daud As, dan sholat malam berjam-jam. “(Tapi) saya pengangguran, dan sangat membuat ayah bunda malu,” ujarnya.
“Almarhum Ayah sangat malu. Beliau mumpuni dalam agama dan mumpuni dalam kesuksesan dunia. Beliau berkata pada saya, ‘Kau ini mau jadi apa? Jika mau agama, belajarlah dan tuntutlah ilmu sampai ke luar negeri. Jika ingin meneladani ilmu dunia, tuntutlah sampai ke luar negeri…’
Namun saya sangat mengecewakan ayah bunda. Boleh dikata, saya ini dunia tidak, akhirat pun tidak,” katanya.
Ketika ayahnya pensiun, ibundanya membangun losmen kecil di depan rumah, yang hanya menyediakan lima kamar dan hanya disewakan pada orang yang baik baik, untuk biaya nafkah keluarga, dan ketika itu ia menjadi pelayan losmen milik ibundanya tersebut.
Setiap malam ia jarang tidur. Ia banyak termenung di kursi resepsionis yang hanya berupa meja kecil dan kursi kecil mirip di pos satpam, sambil menanti tamu. Sambil menunggu losmen, ia habiskan malam malamnya itu dengan bertafakkur, merenung, berdzikir, menangis, dan sholat malam. Sebagai pelayan losmen, tugasnya adalah menerima tamu, memasang seprai, menyapu kamar, membersihkan toilet, membawakan makanan dan minuman pesanan tamu, seperti teh, kopi, air putih, atau nasi goreng buatan sang bunda, jika tamu memesannya.
Sampai ketika semua kakaknya lulus sarjana, ia tergugah untuk mondok di Pesantren Al-Kifahi Al-Tsaqafi, asuhan Habib Umar bin Abdurrahman Assegaf, Bukit Duri, Jakarta Selatan, dan juga belajar di Ats-Tsaqafah Al-Islamiyah. Namun disana ia hanya sampai sekitar dua bulan, karena sering sakit sakitan. Penyakit lamanya, yaitu asma, sering kambuh.
“Ayah makin malu, bunda pun makin sedih…” ujar Habib Munzir mengenang masa masa itu. “Lalu saya ambil saja kursus bahasa Arab di As-Salafi, pimpinan Habib Bagir Al-Attas.” Ia pun harus pulang pergi Jakarta Cipanas, yang saat itu ditempuh dalam dua-tiga jam, dengan ongkos sendiri, dua kali dalam sepekan. Ongkos perjalanan adalah hasil dari pekerjaannya di losmen tersebut.
Berjumpa Guru Mulia
http://scdwae.blogspot.com/
 
Ia juga selalu menyempatkan diri hadir di Majelis Maulid Nabi Saw ditempat Habib Umar bin Hud Al-Attas, yang saat itu di Cipayung. Jika tak ada ongkos, ia menumpang truk. Karenanya, sering kali ia sampai harus berhujan hujanan. Tak jarang ia datang ke Majelis Maulid malam Jum’at itu dalam keadaan basah kuyup, sampai sampai ia pernah diusir oleh penjaga di rumah Habib Umar bin Hud, “Karena karpet tebal dan mahal itu sangat bersih, tak pantas saya yang kotor dan basah menginjaknya. Saya terpaksa berdiri saja berteduh dibawah pohon sampai hujan berhenti dan tamu tamu berdatangan. Saya duduk di luar teras saja, karena baju basah dan takut dihardik sang penjaga,” ujar Habib Munzir dalam salah satu tulisannya.
Ia sering pula berziarah ke Luar Batang, makam Habib Husein bin Abu Bakar Alaydrus. Suatu ketika ia datang kesana dan lupa membawa kopiah, karena datang langsung dari Cipanas. “Ya Allâh, aku datang sebagai tamu seorang wali-Mu. Tak beradab jika aku masuk ziarah tanpa berkopiah, tapi uangku pas pasan, dan aku lapar. Kalau beli kopiah, aku tak makan, dan ongkos pulangku kurang,” demikian hatinya mengucap saat itu.
Akhirnya ia memutuskan membeli kopiah. Pilihannya yang berwarna hijau, karena itu yang termurah saat itu di emperan penjual kopiah. Usai membelinya dan masuk berziarah, sambil membaca Ya-Sin untuk dihadiahkan kepada shahibul maqam, ia menangisi kehidupannya yang penuh dengan ketidakmenentuan, mengecewakan orangtua, sering menghindar dari lingkungan yang terkadang mencemoohnya, “Kakak kakakmu semua sukses, ayahmu lulusan Makkah dan juga New York University. Kok anaknya centeng losmen…”
Dalam tangisan itu, hatinya kembali berucap, “Wahai wali Allah, aku tamumu, aku membeli peci untuk beradab padamu, hamba yang shalih di sisi Allâh, pastilah kau dermawan dan memuliakan tamu, aku lapar dan tak cukup ongkos pulang.”
Saat itu, tiba tiba datang serombongan kawannya di pesantren Habib Umar bin Abdurrahman Assegaf. Tampak mereka senang berjumpa dengannya. Ia pun ditraktir makan. “Saya langsung teringat, ini berkah saya beradab di makam wali Allâh,” ujarnya.
Ia pun ditanya, dengan siapa dan mau kemana, ia katakan bahwa ia sendiri dan mau pulang ke kerabat ibunya di bilangan Pasar Sawo, Kebon Nanas. Mereka berkata, “Ayo bareng saja, kami antar sampai Kebon Nanas.” Ia semakin bersyukur kepada Allâh, karena memang ongkosnya tak ‘kan cukup jika pulang ke Cipanas. Hari sudah larut malam ketika ia sampai di kediaman bibi dari ibunya. Keesokan harinya ia diberi uang cukup untuk pulang ke Cipanas.
Tak lama dari kejadian itu, ia masuk Pesantren Al-Khairat, asuhan Habib Nagib bin Syaikh Abubakar, di Bekasi Timur. Di pesantren itu, setiap kali majelis pembacaan Maulid Nabi digelar dan saat Mahallul Qiyam dibacakan, ia menangis. Ia berdoa kepada Allâh bahwa ia rindu pada Rasulullah Saw. Ia pun ingin dipertemukan dengan guru yang paling dicintai Rasul Saw.
Dalam beberapa bulan saja setelah ia mondok disana, tibalah Habib Umar bin Hafidz ke pondok itu. Itu adalah kunjungan pertama Habib Umar ke Indonesia, yaitu pada tahun 1994. Pertemuannya dengan Habib Umar membawa hikmah yang luar biasa, yang kemudian membawa langkah kakinya menuju negeri leluhurnya, Tarim, Hadhramaut, Yaman Selatan, tempat Habib Umar membina ma’hadnya, Darul Mushthafa.
Habib Munzir saat remaja
Habib Munzir saat remaja
Adab kepada Guru
Singkat kisah, sesampainya di Tarim, yaitu di kediaman Habib Umar, sang guru mengabsen semua nama yang ikut dalam rombongan bersamanya saat itu. Ketika sampai pada namanya yang dipanggil, sesaat Habib Umar memandangnya, lalu tersenyum indah.
Tak lama setelah kedatangan mereka, yang merupakan generasi pertama santri Darul Musthafa, pecahlah perang antara Yaman Utara dan Yaman Selatan. Pasokan makanan berkurang, makanan sulit, listrik mati, mereka pun harus berjalan kaki ke mana mana dan menempuh jalan sekitar tiga-empat kilometer untuk aktivitas ta’lim. Biasanya, menggunakan mobil milik Habib Umar, namun dimasa perang pasokan bensin sangat tidak memadai.
Suatu hari Habib Umar bin Hafidz menatapnya dan kemudian berkata kepadanya, “Namamu ‘Munzir’ – pemberi peringatan.”
Ia mengangguk.
Lalu sang guru berkata lagi kepadanya, “Kelak, kau akan memberi peringatan pada jama’ahmu.”
Ia termenung.
Setelah kejadian itu, sering kali terngiang ucapan sang guru itu, “Kelak, kau akan memberi peringatan pada jama’ahmu.”
“Saya akan punya jama’ah? Saya miskin begini, bahkan untuk mencuci baju pun tak punya uang untuk beli sabun cuci,” Kisah Habib Munzir suatu ketika.
Pernah ia ingin mencucikan baju salah seorang temannya agar mendapat upah mendapat bagian sabun cucinya. Sayangnya, ia malah mendapat hardikan, “Cucianmu tidak bersih, orang lain saja yang mencuci baju ini.” Ia pun terpaksa mencuci dengan menggunakan air bekas mengalirnya air cucian mereka. Air sabun bekas cucian yang mengalir itulah yang ia gunakan untuk mencuci bajunya.
Hari demi hari Habib Umar semakin sibuk. Ia memilih untuk banyak berkhidmat pada sang guru. Ia pun lebih memilih membantu segala permasalahan santri, makanan mereka, minuman mereka, tempat menginap dan segala masalah rumah tangga santri, sampai harus meninggalkan pelajaran demi bakti pada sang guru. Rupanya, itu adalah kiatnya untuk lebih sering berjumpa dengan gurunya tersebut.
Ia turut membersihkan rumah sang guru, membantu membawakan sandalnya, terus berdekatan dengannya agar jika sang guru perlu sesuatu ia menjadi budaknya (demikian Habib Munzir menyebutnya sendiri) yang paling dekat yang siap diperintah. Ia terus menempel pada gurunya, sampai sang guru masuk ke rumahnya larut malam. Dan sebelum sang guru keluar menuju sholat Shubuh di masjid, ia sudah berdiri mematung di depan pintu sang guru dengan penuh kerinduan, atau sambil duduk. Begitu sang guru keluar, ia segera menyalami nya dan menjadi pengiringnya sampai masjid. Demikian aktivitasnya sebagai santri yang paling sering ia lakukan.
Suatu ketika, Habib Umar sudah selesai menerima tamu tamunya di waktu dhuha. Ia ikut sholat dhuha bersama gurunya, tapi dengan lebih mempercepat, kemudian segera duduk lagi tak jauh dari duduknya Habib Umar. Habib Umar pun paham, ia akan tetap disana sebelum sang guru masuk rumah.
Ketika itu Habib Umar menoleh kepadanya, “Apa yang sedang kau dambakan?”
Kepalanya menunduk, lalu berkata, “Ridho mu, Tuan Guru.”
Habib Umar kemudian mengangkat kedua tangannya ke langit dan menengadahkannya. Lalu sang guru tersenyum, kemudian masuk ke dalam rumahnya.
Tahun 1998, ia dan kawan kawannya, generasi pertama santri Darul Musthafa, kembali ke tanah air. Di negeri kelahirannya ini, ia membangun rintisan dakwahnya dari nol, hingga akhirnya berkibarlah bendera Majelis Rasulullah SAW, sebagai salahsatu syiar majelis kaum Ahlussunnah Waljama’ah, yang banyak membawa kebaikan, khususnya bagi para pemuda dan pemudi Islam Ibu Kota Jakarta.
Ujian Fisik Al-Habib Munzir bin Fuad Al-MusawwaBanyak ujian fisik dihadapi Habib Munzir dimasa masa awal membangun Majelis Rasulullah SAW maupun di masa masa kemudiannya saat ia mengarungi medan dakwah yang begitu luas, bahkan hingga akhir hayatnya. Perjuangan yang harus dihadapinya tidaklah mudah.
Di masa masa awal itu, suatu ketika, saat ia tengah dalam perjalanan ke sebuah tempat, penyakit asma yang dideritanya kambuh. Padahal disakunya tidak ada uang meski hanya sepeser. Ia mencoba mengetuk pintu rumah seseorang yang dikenalnya. Ternyata rumah tersebut kosong, padahal asmanya semakin berat. Untuk minum obat yang ia miliki jelas tidak mungkin, karena perutnya masih kosong.
Dengan hati berat, Habib Munzir meninggalkan rumah tersebut. Distopnya sebuah taksi yang kebetulan lewat di dekatnya. Tujuannya ke rumah seorang kerabat yang ia kenal. Ia nekat menumpang taksi, karena serangan asma yang dirasakannya semakin parah. Sedangkan masalah ongkos taksi, ia berharap akan dibayar teman yang tengah ditujunya itu. Ditengah perjalanan, saking beratnya serangan penyakit tersebut, ia pingsan. Atas kehendak Allâh, hati pengemudi taksi itu terbuka. Sang pengemudi membawanya ke rumah sakit.
Sampai disana, ia setengah sadar. Ia takjub, karena dirinya langsung mendapatkan penanganan, padahal saat itu ia tengah khawatir dengan biaya yang bakal ditanggungnya.
“Allâh benar benar telah menggerakkan hati hamba-Nya. Sampai saya keluar rumah sakit, biaya yang digunakan untuk pengobatan tersebut sudah ada yang menanggungnya.” kata Habib Munzir tanpa menyebutkan siapa yang membiayai pengobatan itu.
“Adik saya itu sejak kecil punya asma kronis. Seminggu bisa terserang tiga hingga empat kali, dan itu parah,” ujar Habib Nabiel, kakaknya.
Ketika asma Habib Munzir kambuh, kakaknya itu sering melihat adiknya tak bisa berbicara, mukanya pucat, berkeringat, dan tak bisa makan. Namun sang adik sangat sabar serta tak pernah mengeluh. “Beliau memang sejak dari kecil diberikan cobaan. Dengan kondisi seperti itu tentu berat,” Ujar Habib Nabiel.
Saat remaja, kata Habib Nabiel, adiknya memilih masuk pondok, bukan ke sekolah umum SMA. Pada suatu saat, adiknya mengalami sakit di pondok. Namun ia tak pernah memberi tahu ke keluarga. Memang, jika masuk rumah sakit, ia tak pernah memberi tahu.
“Saat dia sakit, nggak mau memberi tahu kami. Pernah dia tiba tiba pulang diantar orang pesantren dengan koreng di badannya. Dia katanya nggak mau merepotkan keluarga,” kenang Habib Nabiel.
Menurut kakak sulungnya itu, Habib Munzir tipe orang yang tak mau mengeluh dan tak mau merepotkan keluarga. Rasa sakit yang dialaminya hanya dipendam sendiri. “Dia tak ingin keluarganya sedih.” ujarnya. Penyakit Habib Munzir bertambah ketika ia mulai menjalani kesibukan. Ia sering mengalami sakit kepala yang parah hingga pingsan. Bahkan, jika kepalanya itu sakit, Habib Munzir kerap terlihat seperti orang marah. Padahal, sehari hari Habib Munzir orang yang sabar dan halus.
Namun, lagi lagi Habib Munzir selalu memendam rasa sakitnya dan memilih tak mengeluh. “Yang beliau pikirkan adalah bagaimana menghidupkan majelis yang sudah sebesar itu. Beliau berusaha keras, bahkan kegiatannya melebihi kemempuannya. Beliau mengorbankan segalanya untuk dakwah, dan cita citanya tinggi, begitu pula kesabarannya,” Ujar Habib Nabiel.
Ribuan jamaah memadati Masjid Al Munawar sebelum menshalatkan Jenazah Almarhum Habib Munzir Al Musawa
Ribuan jamaah memadati Masjid Al Munawar sebelum menshalatkan Jenazah Almarhum Habib Munzir
Pejuang Dakwah
Ahad petang, 15 September 2013, kabar tersiar, Habib Munzir wafat, sejumlah orang dekatnya, termasuk keluarganya, mengabarkan, ia wafat dalam keadaan tersenyum. Tersenyum saat wafat mengingatkan kita pada jenazah para syuhada’. Dari sebuah hadits yang diriwayatkan At-Tirmidzi dan Ibnu Majah, salahsatu keistimewaan syuhada’ adalah diperlihatkan tempat tinggalnya di syurga. Siapa yang tak berbahagia ketika diperlihatkan bahwa tempat tinggalnya nanti adalah surga? Dan kebahagian pada saat menyongsong maut itu memancar dalam wajah dan mengembangkan bibirnya. Jadilah ia tersenyum.
Jika untuk para syuhada’ penjelasannya seperti itu, bagaimana dengan ulama dan para da’i seperti Habib Munzir, yang tidak meninggal dalam kondisi perang? Wallahu a’lam bishshowab. Namun memang bisa saja seseorang yang tidak meninggal ditengah medan jihad (perang) tapi matinya tergolong syahid. Rasulullah saw pernah bersabda, “Barang siapa mengharapkan mati syahid dengan sungguh sungguh, Allâh akan memberikannya meskipun ia mati di atas tempat tidur.” (H.R Muslim)
Betapapun, tidak ada yang meragukan betapa Habib Munzir memang seorang pejuang dakwah. Ia wafat saat masih mengarungi samudera dakwah yang luas, sebagai salah seorang pejuang sejati.
“Habis umurnya untuk memikirkan umat. Pada saat acara acara besar untuk umat, pikiran dan fisik beliau sampai lemah. Dalam keadaan pakai kursi roda, beliau mengisi acara, bahkan pakai tempat tidur beliau tetap mengisi acara,” Kata Habib Nabiel.
“Penyakit beliau banyak, dikepala, tulang belakang, asma, bahkan sampai ada cairan di perut, tapi Alhamdulilah sudah berhenti,” Ujar kakak tertua dari lima bersaudara ini.
Keesokan harinya, Senin pagi, sekitar pukul 10, jenazahnya dibawa ke Masjid Al-Munawwar, Pancoran, Jakarta Selatan, untuk disholatkan. Masjid itu menjadi saksi atas dakwah Habib Munzir selama bertahun tahun, membasuh ribuan hati pemuda pemudi Islam ibu kota, lewat Majelis Rasulullah saw, yang digelar setiap Senin malam. Pagi itu, masjid tersebut disambangi Habib Munzir untuk terakhir kalinya.
Ba’da dhuhur, usai disholatkan, jenazah Habib Munzir yang berada didalam ambulans, langsung disambut kalimat “Lâ ilâha illâ Allâh” oleh ribuan jama’ah yang sudah memadati tempat pemakaman.
Banyaknya jama’ah yang ingin menyaksikan prosesi pemakaman Habib Munzir membuat ambulans yang membawa jenazahnya membutuhkan waktu lama dari tempat mensholatkan di Masjid Al-Munawwar ke pemakaman Habib Kuncung, Rawajati. Para jama’ah seakan tak rela melewatkan peristiwa itu begitu saja. Sebagian besar dari mereka mengabadikannya, meski harus rela berdesak desakan, guna mengambil gambar, baik video maupun foto menggunkan handphone.
Sebelum dimasukkan ke liang lahat, jenazah Habib Munzir kembali disholatkan di masjid di lingkungan kompleks pemakaman Habib Kuncung, untuk memberi kesempatan bagi jama’ah yang belum mensholatkan. Sejak pagi, kompleks pemakaman itu memang sudah dipadati ribuan jama’ah, menunggu kedatangan jenazah.
Sebagai seorang dai yang memiliki banyak jama’ah yang amat mencintainya, seringkali Habib Munzir bin Fuad Al-Musawwa menyampaikan pesan kepada jama’ahnya. Salah satu pesannya sebelum ia meninggal adalah menitipkan perjuangan dakwah. Seperti pesan berikut ini, yang disampaikan pada akun Twitter @Mjl_Rasulullah pada Senin (15/9/2013), yaitu hari kehidupan sang Habib, berbunyi, “Pesan habibana: JIKA AKU WAFAT MENDAHULUI KALIAN, KUTITIPKAN PERJUANGAN DAKWAH SANG NABI SAW PADA KALIAN.”
Umat Islam di Jakarta dan juga kota kota lainnya, mendoakan Habib Munzir yang telah lebih dulu meninggalkan mereka. Bukan hanya di Nusantara, di kota Tarim pun sampai digelar majelis khatam Al-Quran untuk Habib Munzir. Dalam majelis itu, Habib Umar sempat menyampaikan sambutan. Berikut ini diantara yang disampaikan oleh sang guru utama Habib Munzir bin Fuad Al-Musawa:
“Dan mereka adalah ahlul akhlaq (orang orang yang berakhlaq), sehingga berkumpul 20 ribu, 30 ribu, 40 ribu, kemudian bertambah lagi, berkumpul di beberapa perayaan 100 ribu, 200 ribu, dan aku telah hadir di beberapa perkumpulan ketika kunjunganku di mana lapangan tersebut dipenuhi oleh para jama’ah, dimana tidak mungkin jumlah tersebut terkumpul pada perkumpulan pemerintahan atau yang lainnya.
Akan tetapi sang raja hati itu (Sulthonul Qulub, demikian sebutan Habib Umar pada Habib Munzir) dengan cahaya keimanan mengajak hati sanubari yang lain sehingga mereka menyambut banyak diantara mereka yang sebelumnya tidak pernah sholat, menjadi orang yang menjaga sholat, ditambah lagi dengan berjama’ah dan sholat sunnah rawatib. Dan banyak diantara mereka yang tadinya bermabuk mabukan menjadi orang yang jauh dari hal tersebut, dan menjadi orang yang mengharapkan cangkir cangkir dari dzikir kepada Allâh subhanahu wata’ala dan cangkir cangkir berhubungan dengan Nabi Muhammad saw, menyebut nama beliau dengan bergetarnya sholawat kepada beliau, dan merindukan perjumpaan dengan beliau.
Diantara mereka ada yang menangis, ada yang pingsan, ada yang khusyu’, ada yang bertaubat, ada yang mengamalkan nasihat, ada yang bergetar hatinya, baik dalam keadaan berdiri maupun duduknya mereka. Aku telah menyaksikan apa yang kusaksikan dari mereka.
Allâh telah memilihnya untuk kembali kepada-Nya pada usia 40 tahun dan insyâ Allâh digolongkan dalam kelompok (orang orang yang mendapat keridhoan Nya), dan masuk ke dalam kumpulan mereka.
Ini merupakan perkara yang bukan dihitung berdasarkan panjang atau pendeknya usia. Akan tetapi, perkara terpenting adalah keadaan ditempat kebangkitan kelak dan keadaan ketika menghadap kepada Yang Mahaluhur dan Maha Agung.”
♥ Annallaaha yaghfir lahu wa yarhamhu wa yu’li darojatihi fil jannah. wa yanfa’unaa bi asroorihi wa anwaarihi wa uluumihi fid diini wad dunyaa wal aakhiroh.

sumber: Majalah alKisah & Majelisrasulullah.org

Bismillah

http://scdwae.blogspot.com/

Orang yang mendawamkan bacaan ”Bismillahirrahmaanirrahiim” disetiap saat, dan keadaan, insya Allah segala urusan akan menjadi mudah dan selamat dari godaan syaitan

                                                                               
هذه القصيدة بسم الله ۰۰۰۰۰۰۰۰۰۰۰۰۰۰۰۰۰۰۰۰۰۰
بسم الله ياالله ياگريم ، بسم الله ياالله يارحيم Bismillâh yâ Allâh yâ karîm , Bismillâh yâ Allâh yâ rohîm
بسم الله بسم الله بسم الله ، بسم الله توکلت علی الله Bismillâh Bismillâh Bismillâh , Bismillâh tawakkaltu ‘alâAllâh
بسم الله بسم الله بسم الله Bismillâh Bismillâh Bismillâh
بسم الله توسلنا بالله ۲ ، بسم الله توکلنا علی الله Bismillâh tawassalnâ billâh 2x Bismillâh tawakkalnâ ‘alâAllâh
بسم الله بسم الله بسم الله Bismillâh Bismillâh bismillâh
ياالله يامنان ياگريم ، ياالله يارحمن يارحيم Yâ Allâh yâ mannânu yâ karîm , yâ Allâh yâ rohmânu yâ rohîm
ياالله ياالله ياالله ، ياالله يافتاح ياحليم Yâ Allâh yâ Allâh yâ Allâh , yâ Allâh yâ fattâhu yâ halîm
                                                                    بسم الله بسم الله بسم الله
                                                      Bismillâh bismillâh Bismillâh




Kekhususan Umat Nabi Muhammad S.A.W

 
 
 

 
Tulisan berikut adalah pada bagian awal dari kitab Syaraf al-Ummah al-Muhammadiyyah karya Abuya Sayyid Al Maliki, dimana disebutkan kekhususan-kekhususan umum atau ciri-ciri umum yang dikaruniakan Allah S.w.t ke­pada umat Nabi Muhammad S.a.w. Adapun mengenai berbagai kekhususan yang berkaitan dengan amal-amal peribadatan, dibahas pada bagian selanjutnya.
Keyakinan Yang Sempurna Pada Umat Ini
"Tidak ada umat lain yang beroleh limpahan karunia lebih utama atau sama dengan yang dilimpahkan Allah S.w.t kepada umat Nabi Muhammad S.a.w"

Di antara kemuliaan umat Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa salam ialah bahwa Allah S.w.t melimpahkan keyakinan yang sebesar-besarnya kepada umat ini. Mengenai hal itu Al-Ma’shum Sayyidina Muhammad S.a.w menyatakan kesaksiannya:

ما اعطيت امة من اليقين افضل مما اعطيت امتى

“Tiada umat yang dianugerahi keyakinan lebih afdhal (utama) dari­pada yang dianugerahkan Allah kepada umatku.”

Yakni, tiada umat lain yang hatinya oleh Allah dilimpahi sinar caha­ya untuk dapat membuka dada guna mengenal-Nya hingga dapat bermujahadah melawan nafsunya sendiri berdasarkan jalan yang selurus-lurusnya, hingga masalah akhirat bagi mereka seolah-olah dapat dili­hat dengan terang dan nyata.. Tidak ada umat lain yang beroleh limpahan karunia lebih utama atau sama dengan yang dilimpahkan Allah kepada umatku (Beliau Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa salam).

Umat-umat terdahulu tidak memperoleh hal itu, kecuali seorang demi seorang. Allah S.w.t mengaruniai umat ini (umat Nabi Muham­mad S.a.w) dengan mengenal ta’addub (tata krama terhadap Allah) dan didekatkan kedudukan mereka di sisi-Nya sedekat-dekatnya. Di dalam Taurat, Allah menamai mereka Shafwatur-Rahman (pilihan Yang Maha Pengasih). Di dalam Injil, mereka disebut sebagai Ulama’, ‘Ulama, Abrar, dan Atqiya’ (orang-orang yang sabar, orang-orang berilmu, orang-orang yang patuh, dan orang-orang bertakwa). Dengan demikian maka ke­utamaan yang dikaruniakan Allah kepada umat ini sesungguhnya ada­lah sinar cahaya untuk menanggalkan (membuka) penutup hati mereka hingga berbagai masalah dapat mereka lihat dengan terang.

قل ان الهدى هدى الله ان يؤتى احد مثل ما اوتيتم

"Katakanlah (hai Nabi), sesungguhnya petunjuk (yang harus diikuti) ada­lah petunjuk Allah, dan (janganlah engkau percaya) bahwa akan diberi­kan kepada seseorang seperti apa yang diberikan kepadamu". (QS. Ali ‘Imran: 73).

Para ulama mengatakan, bahwa Yaqin (keyakinan) berbeda-beda, terbagi dalam tiga peringkat, yaitu ‘ilmul-yaqin, ‘ainul-yaqin, dan haqqul-yaqin. ‘Ilmul-yaqin adalah pengetahuan tentang sesuatu yang diperoleh melalui pengamatan dan istidlal (dalil argumentasi). Ainul-yaqin adalah kesanggupan melihat hal-hal yang gaib seperti menyaksikan hal-hal yang kasat mata. Sedangkan Haqqul-yaqin adalah kesanggupan menyaksikan hal-hal yang gaib demikian lekat dan terpadu dengannya.

As-Sariy As-Suqthiy mengatakan, “Al-Yaqin adalah ketenangan Anda pada saat terjadinya berbagai gejolak di dalam dada (yakni di dalam hati), karena Anda yakin benar bahwa kesedihan Anda karena gejolak itu tidak bermanfaat bagi Anda dan tidak akan mendatangkan sesuatu yang Anda perlukan”.

Penghapusan Beban Berat

Mengenai itu Allah S.w.t berfirman di dalam Al-Qur'an:

 الذين يتبعون الرسول النبي الأمي الذي يجدونه مكتوبا عندهم في التوراة والإنجيل يأمرهم بالمعروف وينهاهم عن المنكر ويحل لهم الطيبات ويحرم عليهم الخبائث ويضع عنهم إصرهم والأغلال التي كانت عليهم

"(Orang-orang beriman ialah) mereka yang mengikuti Rasul dan Nabi yang ummi (tuna aksara), yang namanya mereka temukan termaktub di dalam Taurat dan Injil yang ada pada mereka; yang menyuruh mereka berbuat kebajikan dan melarang mereka berbuat kemungkaran; yang meng­halalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk; dan yang membuang (menghapuskan) dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka". (QS. Al-A’raf: 157).

Yang dimaksud beban berat yang membelenggu adalah ketentuan-ketentuan yang membuat orang tidak dapat bergerak. Makna ayat terse­but ialah, bahwa Allah S.w.t tidak mewajibkan umat Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa salam melakukan sesuatu yang berada di luar kesanggupannya, dan tidak mensyariatkannya seperti yang disyariatkan bagi umat-umat sebelum­nya (sebelum umat Nabi Muhammad S.a.w). Misalnya seperti yang di­wajibkan atas orang-orang Bani Israil, mereka diwajibkan melakukan amalan-amalan yang sukar dan berat. Hal itu diibaratkan dengan ran­tai-rantai besi yang membelenggu leher mereka.

Beban berat yang membelenggu mereka (kaum Yahudi) banyak jenisnya, antara lain sebagai berikut:

Bagian yang Terkena Najis Harus Dipotong

Orang yang pakaiannya terkena najis, ia harus memotong bagian yang terkena kotoran itu. Untuk menyucikannya (membersihkannya) tidak cukup kalau hanya dicuci. Demikian menurut hadits yang diketengah­kan oleh Bukhari di dalam Shahih-nya (Bab Al-baul Inda Sibdihatu Oaumin; Kitabul-Wudhu’). Bahkan sebagian dari mereka beranggapan, orang ha­rus memotong apa saja yang terkena najis, meskipun bagian dari tu­buh mereka. Hal itu menurut lahirnya riwayat dari Abu Dawud, yang antara lain menyatakan:

كانوا إذا اصاب البول جسد احدهم قطعوا ما اصابه البول منهم

“Pada zaman dahulu apabila tubuh mereka terkena air kencing, mereka diharuskan memotong bagian tubuh yang terkena najis itu.” (Bab Al-Istibru Minal-Baul).

Riwayat Muslim mengenai itu mengatakan, bahwa yang harus di­potong ialah kulitnya, yakni bagian tubuh yang terkena air kencing harus dikupas kulitnya. Al-Qurthubi menakwilkan, yang dimaksud de­ngan kulit adalah pakaian yang terbuat dari kulit. Riwayat Bukhari me­negaskan bahwa yang dimaksud dengan kulit ialah pakaian. Mungkin saja di antara mereka (para perawi hadis) ada yang meriwayatkannya dengan makna tersebut. Demikian disampaikan di dalam Al-Fath/330. Adapun umat Nabi Muhammad S.a.w disyariatkan untuk membersih­kannya cukup disiram dengan air dan dicuci saja. Cara demikian itu cukup dilakukan, baik yang terkena najis itu bagian dari masjid, paka­ian ataupun badan. Demikianlah yang diterangkan rinciannya dalam kitab-kitab sunnah.

Tidak Makan Bersama Isteri yang Sedang Haid

Orang-orang Yahudi zaman dahulu apabila isterinya sedang haid, me­reka pantang makan bersama, bahkan tidak mau menghubunginya, tidak mau tinggal bersama di dalam satu rumah, dan membiarkan pe­rempuan-perempuan yang sedang haid itu tinggal seorang diri ter­asing di rumah. Demikianlah yang ditegaskan dalam Hadits Shahih (yang diriwayatkan oleh Muslim dan Ahmad) dari Ibnu Katsir.

Lain halnya dengan umat Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa salam, Agama umat ini (Islam) membolehkan suami bergaul dengan isteri yang sedang haid; makan, minum dan tidur bersama, yang dilarang oleh syariat Islam hanyalah bersenggama dan istimta’ (bersenang-senang) dengan menyentuh bagian-bagian badan yang terletak di antara pusar dan lutut. Itu merupakan upaya pencegahan agar tidak terperosok dalam per­buatan terlarang.

Demikianlah, agama Islam dengan hukum syariatnya, menjaga baik-baik kecenderungan dan sifat-sifat kemanusiaan manusia di samping hati nurani dan ruhaninya. Agama Islam menyerasikan keterpaduan antara tuntutan jasmani dan tujuan ruhani. Itu merupakan minhaj (cara) yang sangat tinggi dalam memperlakukan manusia, yaitu cara yang sepenuhnya selaras dengan fitrah manusia yang diciptakan Allah S.w.t.

Ketetapan Hukum Qishash (Hukum Setimpal), Baik dalam Hal Kesalahan yang Disengaja Maupun dalam Hal Kekeliruan

Berlakunya hukum qishash sudah merupakan ketetapan di kalangan Bani Israil. Bahkan kesalahan yang tak disengaja (kekeliruan) pun ha­rus dikenakan hukuman Qishash. Di kalangan mereka tidak ada hukum diyat, baik dalam hal pidana pembunuhan maupun serangan yang mengakibatkan luka badan. Hal itu terdapat dalam Shahih Bukhari (Bab Diyat: XI1/205). Mengenai kenyataan tersebut Allah S.w.t menyatakan di dalam firman-Nya:

 وكتبنا عليهم فيها ان النفس بالنفس

" ….Dan Kami telah tetapkan alas mereka, di dalam Taurat, bahwa jiwa dibalas dengan jiwa …". (QS. Al-Ma’idah: 48).

Namun Allah S.w.t meringankan umat Nabi Muhammad S.a.w de­ngan penetapan hukum diyat (blood money, tebusan nyawa, luka-luka dan sebagainya). Ketentuan hukum diyat merupakan pengganti hukum qishash bagi pelaku pidana tersebut yang dimaafkan oleh keluarga (wali) korban. Mengenai ini Allah S.w.t berfirman:

 كتب عليكم القصاص فى القتلى الحر بالحر والعبد بالعبد والأنثى بالأنثى فمن عفي له من أخيه شيء فالتباع بالمعروف واداء اليه باحسان ذالك تخفيف من ربكم ورحمة.

"Diwajibkan qishash berkenaan dengan orang-orang yang mati dibunuh. Orang merdeka dengan orang merdeka, hamba dengan hamba, dan wanita dengan wanita. Maka barangsiapa (yakni si pembunuh) yang mendapatpermaafan dan saudaranya, maka, hendaklah ia (yang memaaf­kan) menindaklanjuti dengan baik, dan (yang diberi maaf) hendaknya pula. Itu merupakan keringanan dari Tuhan kalian dan suatu rahmat"… (QS.A1-Baqarah: 178).

Tobat dengan Bunuh Diri

Setelah mereka (kaum Yahudi) menyembah-nyembah anak sapi, Nabi Musa A.s. menjelaskan kepada mereka, jika mereka benar-benar hen­dak bertobat, maka mereka harus bunuh diri. Mengenai itu Allah S.w.t telah berfirman di dalam Al Qur'an:

 فتوبوا الى بارئكم فاقتلوا انفسكم

"…hendaklah kalian bertobat kepada Tuhan yang menjadikan kalian (Pen-cipta kalian) dan bunuhlah dirimu". (QS. Al-Baqarah: 54).

Demikian juga mengenai cara bertobat dari sejumlah perbuatan maksiat, mereka harus memotong anggota badan yang digunakan un­tuk berbuat maksiat. Seperti potong lidah dalam hal berbuat dusta, pemenggalan buah zakar dalam hal perbuatan zina, dan pencukilan mata dalam hal perbuatan melihat perempuan yang bukan keluarganya. (Al-Mawahib: V/381).

Sedangkan bagi umat Nabi Muhammad S.a.w, Allah S.w.t mempermu­dah cara bertobat. Allah S.w.t menerima tobat dan berkenan memaaf­kan berbagai kejahatan, bahkan lebih senang daripada senangnya seorang ibu menemukan kembali anak susuannya yang hilang. Allah S.w.t berfirman:

 ومن يعمل سوءا او يضلم نفسه ثم يستغفر الله يجد الله غفورا رحيما

"Dan barangsiapa berbuat kejahatan dan menganiaya diri sendiri, kemu­dian ia mohon ampunan kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang". (QS. An-Nisa': 110).

Mempermalukan Orang yang Berbuat Maksiat

Orang-orang Bani Israil zaman dahulu, jika ada seorang di antara me­reka berbuat maksiat, esok paginya ia melihat di pintu rumahnya tertulis “Si Fulan berbuat ini dan itu, dan kafaratnya (dendanya) begini dan begitu”. Hal itu dapat disaksikan oleh umum. (Al-Khashaish: III/4).

Lain halnya dengan umat Nabi Muhammad S.a.w, Allah S.w.t me­mandang perbuatan seperti di atas lebih baik ditutup. Mengenai itu Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa salam telah menegaskan:

كل امتى معافى الا المجاهرين ان يعمل الرجل بالليل عملا ثم يصبح وقد ستره الله تعالى فيقول : يا فلان. عملت البارحة  كذا وكذا وقد بات يستره ربه ويصبح يكشف سترالله عنه..  متفق عليه

“Semua umatku dapat beroleh maaf kecuali orang-orang yang me­ngungkapkan (sendiri kesalahannya) yang diperbuat di malam hari (lalu mengungkapkannya sendiri) pada pagi harinya, padahal Allah telah menutupi kesalahannya. Ia mengatakan (kepada orang lain): ‘Hai Fulan, tadi malam aku berbuat begini dan begitu’. Padahal perbuatannya itu telah ditutupi Allah, Tuhannya, namun keesokan harinya ia membuka sendiri perbuatannya yang telah ditutupi Allah.”. (Hadits Muttafaq alaihi).

Hukuman Dosa atas Niat Buruk Meskipun Tidak Diwujudkan dengan Perbuatan

Setiap Nabi dan Rasul yang diutus Allah S.w.t dan telah diturunkan kepadanya Kitab Suci niscaya memberitahu umatnya bahwa Allah S.w.t akan memperhitungkan apa yang telah mereka perbuat dan yang mere­ka sembunyikan di dalam dada. Kaum Bani Israil dahulu menghujat para Nabi dan Rasul mereka dan mengatakan, “Mengapa kami di­kenakan hukuman atas niat buruk yang kami tidak mewujudkannya dengan perbuatan?” Mereka mengingkari para Nabi dan Rasul seraya berkata, “Kami mendengarkan tetapi kami tidak mau menaati!” Setelah orang-orang yang beriman dari kalangan mereka mengatakan, “Kami mendengar, kami mau menaati, kami berserah diri, dan kami pun ber­iman kepada Allah, mengimani malaikat-Nya, Kitab Suci-Nya, dan Rasul-rasul-Nya,” Allah S.w.t lalu menenteramkan mereka, bahwa Dia tidak memperhitungkan niat dalam hati mereka kecuali niat yang di­wujudkan dalam perbuatan. Allah S.w.t berfirman di dalam Al Quran:

 لها ما كسبت وعليها ماكتسبت

"Ia—seseorang—beroleh pahala dari kebajikan yang dilakukannya, dan ia beroleh siksa dari kejahatan yang diperbuatnya". (QS. Al-Baqarah: 286).

Hukuman atas Kekeliruan dan Kelupaan

Kaum Bani Israil dahulu dikenakan hukuman segera (hukuman di du­nia) berupa pengharaman suatu makanan atau minuman atas dosa-dosa mereka, baik yang besar maupun yang kecil. (Al-Mawahib: 384).

Tidak demikian halnya dengan umat Nabi Muhammad S.a.w, Allah S.w.t membebaskan mereka dari dosa kekeliruan dan kelupaan, dan dari sesuatu yang dipaksakan kepada mereka. Hal itu ditegaskan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad (bin Hanbal), Ibnu Hibban, Al-Hakim, Ibnu Majah, Thabrani, dan Daruquthni dengan isnad yang baik, dipandang baik pula oleh An-Nawawl. (Al-Mawahib: 384 dan Al-Khashaish: IH/202).

Mereka Diharamkan Melakukan Kegiatan pada Hari Raya Mereka

Hari raya mereka (kaum Yahudi) adalah hari Sabat (Sabtu). Mereka telah menyatakan sumpah danjanji akan mengagungkan hari Sabtu, akan sepenuhnya menunaikan kewajiban yang diperintahkan Tuhan, dan tidak akan melakukan kegiatan atau pekerjaan apa pun pada hari Sabat. Oleh sebab itu setelah ternyata mereka mencederai sumpah dan janji mereka lalu berupaya menangkap ikan pada hari itu, Allah S.w.t menjatuhkan hukuman atas mereka dengan firman-Nya:

كونوا قردة خاشئين

"Jadilah kalian kera yang hina". (QS. Al-Baqarah: 65) Lihat juga Surah Al-A’raf: 163.

Beban hukuman yang seberat itu ditiadakan Allah S.w.t bagi umat Nabi Muhammad S.a.w. Pada hari-hari raya (hari-hari besar) mereka, yaitu hari Jumat, sebelum dan sudah salat Jumat mereka boleh bermuamalat (melakukan kegiatan sosial, ekonomi, dsb.). Mengenai hal itu Allah S.w.t berfirman:

يا ايهاالذين امنوا اذا نودي للصلوة من يوم الجمعة فاسعوا الى ذكرالله وذروا البيع . ذلكم خير لكم ان كنتم تعلمون . فاذا قضيت الصلوة فانتشروا في الارض وابتغوا من فضل الله …

"Hai orang-orang beriman, apabila kalian diseru untuk menunaikan salat Jumat, hendaknya bersegeralah kalian ingat akan Allah dan tinggalkanlah jual-beli (dan semua pekerjaan). Yang demikian itu lebih baik bagi kalian, jika kalian mengetahui. Apabila salat telah ditunaikan, hendaklah kalian bertebaran di muka bumi dan carilah karunia Allah …". (QS. Al-Jumu’ah: 9-10).

Wabah Penyakit Tha’un Melanda Umat-Umat Terdahulu Sebagai Azab.
Tha’un adalah jenis penyakit yang mematikan. Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa salam mem-beritahu kita bahwa zaman dahulu berbagai bencana dan malapetaka— seperti wabah tha’un—ditimpakan Allah S.w.t atas berbagai umat, se­bagai azab. Bagi umat Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa salam apa pun yang terjadi dan mereka alami hanya sebagai rahmat dan pembuktian mengenai ke­benaran Allah. Demikianlah menurut Hadits Shahih. (Al-Mawahib: V/391 dan Al-Khashaish: IH/221).

Diharamkan Beberapa Jenis Makanan Yang Baik Bagi Mereka
Itu mempakan hukuman yang dijatuhkan Allah S.w.t atas orang-orang Bani Israil, disebabkan oleh pembangkangan, kezaliman, dan peleceh­an mereka terhadap aturan-aturan yang telah ditetapkan Allah S.w.t. Keserakahan membuat mereka lebih menyukai makanan yang bermu­tu rendah dengan berdalih, “Allah akan mengampuni kami!” Berkait­an dengan itu Allah S.w.t berfirman di dalam Al Quran:

فبظلم من الذين هادوا حرمنا عليهم طيبات احلت لهم وبصدهم عن سبيل الله كثيرا

“Maka disebabkan oleh kezaliman orang-orang Yahudi itu, Kami haram­kan atas mereka makanan yang baik-baik, (yang dahulunya) dihalalkan bagi mereka, karena mereka banyak merintangi (manusia) dari jalan Allah”. (QS.An-Nisa': 160).

Allah S.w.t telah menjelaskan berbagai hal yang terlarang bagi me­reka, yaitu:

Semua hewan yang berkuku utuh (yakni hewan yang tidak berkuku-belah) dan unggas, seperti unta, burung unta, itik, dan sejenis­nya. Semuanya itu diharamkan bagi mereka.

Gajih (lemak) sapi dan kambing diharamkan bagi mereka, dan ga­jih lainnya yang berada di dalam tulang (sumsum), isi perut, gajih yang ada pada ponok—sebagaimana yang terdapat di dalam surah Al-An’am. (Ibnu Katsir: 11/200).

Lain halnya dengan umat Nabi Muhammad S.a.w, Allah S.w.t meng­halalkan bagi mereka segala yang baik (QS. Al-Ma’idah: 5), dan meng­haramkan bagi mereka segala yang buruk (QS. Al-A’raf: 157).

~ Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki al-Hassani ~

Robbahu Inna Munaya





هذه القصيده رباه إن مناي Qosidah Sholawat Robbahu inna Munaya ۰۞۰ ۰۞۰ ۰۞۰ ۰۞۰ ۰۞۰
رباه إن منای ۰۞۰ أن تستقيم خطاي ثم اصيرا ۰۞۰ نارا ونورا يارباه  يارباه Robbâhu inna munâya ۰۞۰ An tastaqîma khuthôya Tsumma ashîrô ۰۞۰ Nâron wa nûron YÂ ROBBÂH YÂ ROBBÂH
گيف أضل دربی ۰۞۰ مادمت أنت ربی وأنت عندی ۰۞۰ نوری وقصدی يارب يارحمن Kaifa adlillu darbî ۰۞۰ Mâ dumta anta robbî Wa anta ‘indî ۰۞۰ Nûrî wa qoshdî YÂ ROBBU YÂ ROHMÂN
ماأسعد الإنسان ۰۞۰ إن عاش للقرأن هيا صديقی ۰۞۰ فذا طريقی هيا إلی الإيمان Mâ as’adal insân ۰۞۰ in ‘âsya lilqur-ân Hayâ shodîqî ۰۞۰ Fadzâ thorîqî HAYÂ ILÂL ÎMÂN


INDAH NYA BERBAGI © 2015. All Rights Reserved.
Template HITAMZ V.3 By SEOCIPS , Powered By Blogger